Senin, 05 Agustus 2013

Merawat Amal Pasca Ramadhan



Semua orang sepakat bahwa melakukan lebih mudah daripada merawatnya. I'tikaf itu gampang, shalat lail gampang, biasanya kita shalat dengan surat yang pendek-pendek dan inginnya cepet-cepet, kini kita dimanjakan imam-imam yang memiliki hafalan yang banyak serta bacaan yang merdu, sehingga bisa merasakan lebih panjang dan syahdu. Tilawah gampang, sekali duduk bisa satu sampai empat juz. Tapi merawatnya? Ketika i'tikaf, hidup kita seperti hanya menunggu waktu shalat sja, namun nanti ketika sudah kuliah/kerja apakah kita bisa merawat itu?

Dalam Al Qur'an Surat An Nahl 92 terdapat sebuah kisah seorang wanita yang ingin menikah tapi karena tidak dapat-dapat, saking kesalnya setiap hari ia memintal benang hingga menjadi kain lalu mengurainya kembali. Besoknya pun demikian, besoknya lagi, hingga akhir hayatnya.
Kenapa Allah mengabadikan kisah ini? Karena ada message yang ingin Allah sampaikan kepada kita, agar jangan sampai kita mengurai apa-apa yang sudah kita bangun selama ini, membangun ibadah kita dengan i'tikaf ini lalu mengurainya kembali dengag kemaksiatan2 kita.
Beberapa cara merawat amal kita adalah sebagai berikut:
1) Menjaga Bi'ah (Lingkungan) yang Baik

- I'tikaf menjadi menyenangkan karena bi'ah yang baik. Lingkungan terpelihara akan menjaga amal kita.
- Ingat kisah seseorang yang membunuh 100 orang? Suatu hari ketika ia ingin bertaubat, ia menemui seorang ulama, ulama tersebut memintanya untuk pergi ke tempat yang kondusif untuk menguatkan kembali fitrahnya. Ketika dalam perjalanan ia wafat, namun walaupun ia belum sempat bertaubat sedikitpun (baru perjalanan saja ke tempat dengan bi'ah yang baik) tapi Allah tetap mejadikannya ahli syurga.
2) Punya Sahabat yang Shalih
- Mengapa Abu Bakar, Umar, Ustaman shalih? Karena ia memiliki sahabat sekaliber Rasulullah SAW. Amr bin Ash dulu sangat membenci Islam, termasuk penentang ketika sahabat hijrah ke Abasiyah. Tapi ketika masuk Islam, sempurna. Merasakan nikmatnya ukhuwah, bahkan Amr merasa menjadi sahabat yang paling dicintai Nabi.
3) Ada Pengingatan yang terus Menerus
- Suatu waktu ketika bang banu umroh, beliau mengikuti majelis ilmu, musyrifnya mengatakan banyak doktor, syaikh yang masih ikut tadzkiroh2 sederhana seperti ini! Bahwasanya mendapatkan pengingatan itu penting! Orang-orang tidak mau ikut kajian-kajian, itu orang tinggi hati karena merasa sudah tau, sudah faham, dan sebagainya.
4) Keterikatan dengan Masjid
- Penting bagi kita untuk menjaga keterikatan dengan masjid. Ketika kita senantiasa menjaga shalat kita, shalat-shalat sunnah kita. Ingat kisah Umar? Yang menyedekahkan seluruh kebunnya 'hanya' karena telah melalaikannya sehingga telat shalat ashar dua raka'at
- Bahkan salafus shalih yang rela tidak safar jika tidak penting-penting banget agar bisa mengejar shalat fardhu. Makanya penting buat yang suka traveling, traveling sebaiknya ke tempat yang mudah shalatnya :)
- Dan utk akhwat yang ingin cari suami shalih gampang saja, cari saja yang suka bolak balik ke masjid, karena ini yang paling dzahir. Keshalihan siapa yang tahu? Apalagi keikhlasan..maka ini ciri dzahir yang paling mudah.
5. Al Qur'an
- Perbaiki interaksi kita dengan Al Qur'an karena Allah berjanji telah menjaga Al Qur'an, maka Al Qur'an itu akan menjaga kita.
- Ketika qunut tadi didoakan agar Al Qur'an menjadi penghibur kita, penghapus kesedihan kita, pengantar kita ke syurga. doa yang sangat dalam sekali, itulah semestinya posisi Al Qur'an di hati kita.
- Khatamkan Qur'an minimal satu kali sebulan!
6. Qiyamul Lail
- Jaga terus, usahakan setiap hari jangan sampai lepas walau mepet sekalipun. Karena qiyamul lail adalah waktu spesial kita dengan Allah semata.
- QL adalah da'bushshalih (tradisi orang shalih)
- QL membuat kita di tempatkan di tempat2 terpuji. Insya Allah tahajud menjaga amal-amal kita yang lainnya.
Oleh: Ustadz Banu Muhammad
(Islamedia.web.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar