Kamis, 06 Desember 2012

SISTEM EVALUASI LAHAN UNTUK KEHUTANAN


PENGERTIAN DAN FUNGSI
Setiap ahli kehutanan atau ahli ekologi hutan telah mengetahui bahwa di dalam menilai lokasi hutan, kita harus memperhatikan ekosistem hutan atau kawasan hutan secara keseluruhan.  Interaksi di antara berbagai faktor lingkugan terutama sifat lahan dalam kaitannya dengan produktivitas hutan sudah lama diketahui, sehingga dalam mengevaluasi lahan hutan perlu pertimbangan terhadap faktor-faktor lingkungan tersebut.
Sebagian besar produksi kayu pada saat yang lalu dan mungkin juga sekarang ini semata-mata hanya merupakan usaha eksploitasi, dengan jalan menebang pohon-pohon yang mempunyai  nilai ekonomis dari hutan-hutan alami yang ada.  Dengan pertimbangan akan kecenderungan menurunnya jumlah sumberdaya hutan dan dibanyak daerah, munculnya keperluan penggunaan lahan bagi keperluan lain diluar kehutanan (seperti pemukiman, transmigrasi, pertanian, perindustrian dan sebagainya), mengundang perlunya penanganan yang terpadu di dalam pengalokasian lahan untuk kehutanan.
Di dalam kaitan dengan pengalokasian tersebut, sebaiknya didahului dengan suatu kegiatan evaluasi bagi daerah yang bersangkutan untuk dapat mengetahui kesesuainnya sebagi hutan potensial.  Evaluasi yang paling baik adalah berdasarkan penampilan (perfomance) pohon dan hasil pengukuran jenis-jenis kayu yang mempunyai nilai ekonomis pada lokasi yang sejenis.
Pengertian dan Fungsi
Evaluasi lahan untuk kehutanan adalah pendekatan sistematik pd proses mencocokkan (fitting) kehutanan ke dalam perencanaan penggunaan lahan suatu negara atau wilayah tertentu (Van Goor, 1981).
Kehutanan seperti halnya dengan pertanian, merupakan pembagian utama penggunaan lahan pedesaan.  Kehutanan merupakan alternatif penggunaan yang akan berkompetisi langsung dengan jenis penggunaan utama lainnya pada tipe lahan tertentu.  Akan tetapi kehutanan berbeda dari pertanian paling tidak dalam tiga hal berikut:
1.       Periode daur yang panjang sehingga untuk dapat bersifat ekonomis, biaya-biaya pengembangan harus diusahakan agar tetap rendah
2.      Meliputi areal yang luas sehingga teknik-teknik  pengelolaan yang mahal tidak digunakan
3.      Produktivitas yang rendah sehingga kehutanan umumnya dialokasikan pada tanah-tanah marginal (Lee, 1981)
Di dalam evaluasi lahan untuk kehutanan perlu dibedakan antara hutan alami dan hutan buatan, karena fungsi hutan alami pada dasarnya berbeda dari fungsi hutan buatan.  Beberapa fungsi yang menonjol dari hutan alami adalah:
1.       Untuk mengendalikan keadaan lingkungan dalam hubungannya dengan erosi dan dalam hubungannya dengan pengendalian pengaruh iklim dan banjir
2.      Sebagai  sumber bahan-bahan  produk ektraksi seperti  kayu bakar, serat, buah, resin dan lain sebagainya.
3.      Sebagai cadangan untuk lahan yang dapat diolah atau untuk produksi kayu dimasa mendatang
4.      Untuk produksi kayu atas dasar produksi yang lestari
5.      Untuk keperluan rekreasi, perlindungan terhadap  jenis flora dan fauna
Sedangkan hutan buatan biasanya ditujukan untuk keperluan produksi kayu, tetapi dapat juga berfungsi untuk keperluan rekreasi atau untuk pengendalian lingkungan. Oleh karena itu biasanya spesies yang diusahakan adalah spesies yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi.
PENILAIAN PERTUMBUHAN POHON
Indeks lokasi atau Bonita
Cara mengukur produktivitas hutan yang terbaik adalah dengan jalan mengukur volume kayu yang dapat berguna yang diproduksi pada satuan daerah atau area tertentu pada suatu waktu tertentu.
Penentuan bonita di Indonesia dilakukan dengan menggunakan ukuran yang disebut peninggi  yaitu tinggi rata-rata (ratan) dari 10 pohon tertinggi di dalam satu tegakan seumur.
Tinggi pohon lebih mudah diukur, pertumbuhan tinggi pohon berkorelasi dengan pertumbuhan volume.  Penilaian bonita didasarkan atas tinggi yang dicapai pada umur indeks tertentu.  Di AS indeks umur yang digunakan adalah 50 tahun (pohon berumur pendek) dan 100 tahun (pohon berumur panjang).
  1. Panjang daur optimum
Panjang daur optimum akan memberikan hasil maksimum, diukur sbg volume riap (pertambahan tahunan) rata2 per satuan area lahan dan keuntungan maksimum.  Karena tinggi dr spesies pohon berkorelasi baik dgn volume kayu, maka panjang daur optimum utk spesies dpt dihitung dari kurvatinggi: umur spesies tsb.
Faktor-faktor Lingkungan yang mempengaruhi produktivitas hutan
Melihat akan kekhususan tanaman hutan, maka umumnya dibutuhkan suatu hubungan terpisah antara faktor-faktor lingkungan (tanah dan lokasi) dan pengelolaan atau pengusahaan hutan.
Mis. Pihak kehutanan memandang penanaman sbg alat utk memungkinkan memperbaiki lahan ketimbang sbg kewajiban biasa, sehingga adanya batu2an besar, singkapan batuan dan lereng curam tdk perlu menghalangi kegiatan kehutanan.  Oleh karena itu seringkali pihak kehutanan enggan untuk mengeluarkan biaya untuk suatu perubahan-perubahan  drastis yang diinginkan pada kondisi tanah.  Mereka lebih suka untuk mengadaptasikan penanaman dan pengolahan yang paling baik dan paling sesuai untuk keadaan tersebut.
1.      Iklim
Temperatur merupakan salah satu unsur iklim yg sangat penting.  Di daerah Lintang Utara dan Lintang Selatan temperatur sering menentukan terhadap lamanya periode pertumbuhan.  Di daerah tropika basah dan sub tropis, pertumbuhan berlangsung hampir sepanjang tahun.
Curah hujan merupakan unsur kedua yang terpenting.  Curah hujan yang cukup penting dalam kaitannya dengan produktivitas hutan.  Di dekat pantai California, bonita dari Douglas fir semakin bertambah sebesar 1,5 m untuk setiap kenaikan 250 mm dari rata-rata curah hujan tahunan.
2.      Tanah
Jika kekurangan unsur hara tidak terjadi secara drastis, maka tanaman kehutanan terutama konifera, kondisi sifat fisik tanah lebih penting dibandingkan dgn sifat2 kimianya.  Di antara siifat-sifat fisik yang penting adalah kapasitas menahan air tersedia, yang berkaitan dengan kedalaman perakaran, tekstur tanah dan kandungan batu.  Indikator tentang kondisi drainase  juga penting, misalnya Kedalaman muka air tanah.
SISTEM EVALUASI LAHAN UNTUK KEHUTANAN
Meskipun evaluasi lahan untuk kehutanan pada prinsipnya sama atau sejalan dengan evaluasi lahan untuk pertanian, akan tetapi terdapat beberapa perbedaan-perbedaan penting di antara keduanya.  Pada  evaluasi lahan untuk kehutanan, perkiraan atau taksiran hasil lebih mudah diukur, dan satu perkiraan merupakan penjumlahan pertumbuhan beberapa tahun, sehingga meliputi pengaruh keragaman iklim.  Evaluasi secara ekonomis menyeluruh dari daur yang panjang sifatnya  sangat spekulatif karena tidak mungkin memprediksi harga kayu dalam jangka waktu 50 atau 100 tahun.
Berbagai pendektan yang berbeda dalam evaluasi lahan untuk kehutanan telah dikembangkan, yang meliputi pendekatan dengan menggunakan satu faktor dan pendekatan dengan faktor ganda.  Pendekatan dengan menggunakan satu faktor meliputi:
  1. Klasifikasi lokasi.  Merupakan hubungan antara pertumbuhan pohon atau tegakan dan lokasi
  2. Klasifikasi medan.  Menfokuskan pada hubungan antara operasi medan dan kondisi untuk pemanenan.  Untuk kehutanan, klasifikasi ini terutama menyangkut keterjangkauan untuk pembalakan, silvikultur dan konstruksi jalan.
  3. Klasifikasi tanah.  Sifat tanah menentukan klasifikasi hutan,  klasifikasi ini kadang sangat mendetail, ada klasifikasi yang menaruh perhatian semata-semata  hanya pada pemadatan tanah dan pengaruhnya terhadap  pembalakan dan sifat-sifat  pertumbuhan, sedangkan yang lainnya pada nilai potensi tanah.
Pendekatan faktor ganda, meliputi:
1.       Klasifikasi tanah-lahan hutan yang digunakan Dinas Konservasi Tanah Amerika Serikat.  Sistem ini mempertimbangkan produktivitas lokasi tertentu (klasifikasi lokasi), sifat-sifat  pembatas tanah dan sebagai pilihan faktor-faktor  lokasi lainnya (pembatas pengelolaan) dan menilai bonita tertentu.  Survei tanah merupakan tulang punggung sistem klasifikasi ini.
2.      Evaluasi Penggunaan ganda oleh dinas Kehutanan Amerika Serikat.  Di Amerika Serikat  belum ada sistem klasifikasi nasional untuk mengevaluasi lahan untuk kehutanan.  Dalam sistem ini, lahan di evaluasi untuk berbagai penggunaan, termasuk kehutanan menurut prinsip-prinsip  penggunaan ganda dan hasil yang lestari.
3.      Sistem Klasifikasi Terpadu.  Dalam sistem ini, sistem vegetasi dan sistem fisiografi diperhitungkan.  Sistem ini mengkombinasikan vegetasi dan medan dengan kondisi sementara dan memasukkan penilaian produktivitas.  Sistim ini merupakan sistem yang terbaik utk klasifikasi lokasi hutan.
Klasifikasi hutan di Indonesia
Di Indonesia, metode klasifikasi lahan untuk kehutanan dikenal dengan sebutan Tata Guna Hutan Kesepakatan.  Hal ini di dasarkan pada Undang-undang Pokok Kehutanan No.5 tahun 1967 yang menetapkan bahwa hutan diklasifikasikan  menurut fungsinya yaitu sebagai  hutan lindung, hutan produksi, hutan suaka dan hutan untuk keperluan rekreasi.   Sistem ini jauh lebih jauh membagi hutan produksi  atas hutan produksi biasa, hutan produksi terbatas dan hutan produksi yang dapat di konversi .  Keuntungan dari sistem klasifikasi hutan kesepakatan ini, antara lain dapat memberikan kerangka untuk pemecahan yang mendesak dari suatu konflik atau permasalahan dalam penggunaan lahan.  Akan tetapi klasifikasi ini tidak mempertimbangkan kualitas hutan dalam penyusunannya, sehingga tidak memberikan gambaran tentang lingkungan fisik yang dapat mempengaruhi produksi hutan.

Pertemuan Pertama Kuliah: Ilmu Tanah dan Evaluasi Lahan Hutan
Bahan Bacaan Utama: Evaluasi Sumberdaya Lahan, Sitorus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar