Rabu, 19 September 2012

HASIL HUTAN BUKAN KAYU


Hutan  secara umum dilihat sebagai sumber daya penting berupa: lahan dan kayu gergajian.  Sehingga kebijakan pengelolaannya lebih banyak bertujuan untuk memanen kayu.  Tindak lanjut dari kebijakan tersebut menyebabkan jutaan hektar hutan telah dibuka dan dikonversi untuk pemanfaatan lahan alternatif, maupun untuk memperoleh kayu.   Sedangkan secara ekologi hutan diketahui terdiri dari unsur fisik berupa tanah, batu-batuan dan unsur biologi berupa hewan dan tumbuhan dan jasad hidup lainnya.  Unsur-unsur  biologi yang terdapat dalam hutan tersebut secara umum diklasifikasikan sebagai  hasil hutan bukan kayu.
Selama ini, Indonesia menerapkan kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang eksploitatif, khususnya hutan.  Kebijakan eksploitasi ini mengakibatnya, kondisi hutan  mengalami degradasi yang sangat memprihatinkan.  Tahun 1980-an merupakan tahun keemasan kebijakan eksploitasi hutan untuk diambil kayunya. Ekspor kayu pun mengalami peningkatan yang sangat besar dan menjadi salah satu tulang punggung pendapatan negara.   Melihat kerugian dalam penjualan kayu dalam bentuk kayu bulat, menyebabkan pemerintah menetapkan larangan ekspor kayu bulat.  Larangan penjualan kayu bulat menyebabkan  pertumbuhan industri berbasis kayu dengan sangat pesat di dalam negeri.
Sejak masa kejayaan ekploitasi hutan melalui sistem HPH, harga kayu hasil penebangan cukup menggiurkan masyarakat untuk mengusahakannya. Sebaliknya, nilai hasil hutan non kayu secara bertahap mengalami penurunan. Akibatnya banyak masyarakat, yang secara tradisi mengusahakan hasil hutan non kayu, menghentikan kegiatan tersebut dan beralih pada ekspoitasi kayu hutan.  Eksploitasi ini sekarang tidak hanya berlangsung pada kawasan produksi saja, tapi juga telah merambah pada kawasan konservasi yang ada. Akibat perilaku eksploitatif  ini berdampak langsung pada produk hasil hutan non kayu. Dimana banyak produk-produk tersebut yang membutuhkan dukungan tegakan hutan yang baik untuk berkembang optimal.

Defenisi Hasil Hutan Bukan Kayu
FAO: Hasil hutan bukan kayu adalah  produk biologi asli selain kayu yang diambil dari hutan, lahan perkayuan dan pohon-pohon  yang berada di luar hutan.
Dykstra & Heinrich: semua materi biologi, selain kayu industri yang melalui proses ekosistem alam, baik untuk keperluan komersil, untuk keperluan sehari-hari  ataupun juga untuk keperluan sosial budaya dan agama.
Sist et al.: menuliskan defenisi yang sama dengan Dykstra & Heinrich, bedanya hanya menghilangkan kata “ekosistem asli” dan mengantinya dengan kata “hutan”.
Profound’s: Hasil hutan bukan kayu meliputi semua bahan biologi selain kayu yang dihasilkan dari hutan untuk kebutuhan manusia.
Hasil hutan bukan kayu penting untuk konservasi, kelestarian dan ekonomi.  Penting untuk konservasi sebab untuk mengeluarkan hasil hutan bukan kayu biasanya dapat dilakukan dengan kerusakan minimal terhadap hutan.  Penting untuk kelestarian sebab proses panen biasanya dapat dilakukan secara lestari dan tanpa kerusakan hutan.  Penting untuk ekonomi karena hasil hutan bukan kayu ini berharga/memiliki  nilai ekonomi yang tinggi.

Klasifikasi Hasil Hutan Bukan Kayu
Terdapat beberapa klasifikasi hasil hutan bukan kayu, diantaranya yaitu:
1.   Pancel, 1993:
            a.  Karet dan damar
            b.  Bahan celup dan penyamak
            c. Tumbuhan yang dapat di makan
            d.  Bahan serat
            e. Obat-obatan
            f.  Produk dari binat
     2.   Qwist-Hoffman et al. 1998:
             a.  Serat dan benang
             b.  Produk yang dapat dimakan
             c.  Berupa ekstrak dan cairan
             d.  Tumbuhan obat-obatan
             e.  Tumbuhan ornamen/pohon hias
             f.   Hasil dari binatang
    3.  Profound’s 2001 mengklasifikasikan  hasil hutan bukan kayu menjadi lima bagian, gabungan dari           kelompok produk dan tipe produk: 
      a.    Tumbuhan yg dapat dimakan
             1.  Makanan
             2.  Minyak yang dapat dikonsumsi
             3.  Bumbu
             4.  Makanan ternak
             5.  Tumbuhan lain yang dapat dikonsumsi
             6.  Tumbuhan lain yang tidak dapat dikonsumsi
      b.    Tumbuhan yang tidak dapat dikonsumsi lainnya:
             1.  Rotan
             2.  Bambu
             3.  Produk kayu
             4.  Pohon hias
             5.  Bahan kimia
c.     Bahan Obat-obatan
             Semua bahan obat-obatan
d.        Hewan yang dapat dikonsumsi
              1.  Binatang darat
              2.  Produk dari hewan
              3.  Ikan dan invertebrata air
e.         Produk hewan lainnya yang tidak dapat dikonsumsi:
              1.  Produk hewan yang tidak dapat dikonsumsi
              2.  Serangga
              3.  Margasatwa dan binatang hidup
              4.  Hewan yang tidak dapat dikonsumsi lainnya.
4.  Menurut Permenhut No 35/2007:
Jenis komoditi hasil hutan bukan kayu digolongkan ke dalam dua kelompok besar yaitu: (1) Kelompok Hasil Hutan dan Tanaman; dan (2) Kelompok Hasil Hewan.
Kelompok Hasil Hutan dan Tanaman meliputi:  
1. Kelompok Resin: agatis, damar, embalau, kapur barus, kemenyan, kesambi, rotan jernang, tusam;
2. Kelompok minyak atsiri: akar wangi, cantigi, cendana, ekaliptus, gaharu, kamper, kayu manis, kayu putih;
3. Kelompok minyak lemak: balam, bintaro, buah merah, croton, kelor, kemiri, kenari, ketapang, tengkawang;
4. Kelompok karbohidrat : aren, bambu, gadung, iles-iles, jamur, sagu, terubus, suweg;
5. Kelompok buah-buahan: aren, asam jawa, cempedak, duku, durian, gandaria, jengkol, kesemek, lengkeng, manggis, matoa, melinjo, pala, mengkudu, nangka, sawo, sarikaya, sirsak, sukun;
6. Kelompok tannin: akasia, bruguiera, gambir, nyiri, kesambi, ketapang, pinang, rizopora, pilang;
7. Bahan pewarna: angsana, alpokat, bulian, jambal, jati, kesumba, mahoni, jernang, nila, secang, soga, suren;
8. Kelompok getah: balam, gemor, getah merah, hangkang, jelutung, karet hutan, ketiau, kiteja, perca, pulai, sundik;
9. Kelompok tumbuhan obat: adhas, ajag, ajerar, burahol, cariyu, akar binasa, akar gambir, akar kuning, cempaka putih, dadap ayam, cereme;
10. Kelompok tanaman hias: angrek hutan, beringin, bunga bangkai, cemara gunung, cemara irian, kantong semar, pakis, palem, pinang merah;
11. Kelompok palma dan bambu: rotan (Calamus sp, Daemonorops sp, Korthalsia sp), bambu (Bambusa sp, Giganthocloa sp, Euleptorhampus viridis, Dendrocalamus sp), agel, lontar, nibung;
12. Kelompok alkaloid: kina, dll.
            Sedangkan Kelompok Hasil Hewan meliputi:
1. Kelompok Hewan buru, yang terdiri dari Kelas mamalia: babi hutan, bajing kelapa, berut, biawak, kancil, kelinci, lutung, monyet, musang, rusa. Kelas reptilia: buaya, bunglon, cicak, kadal, londok, tokek, jenis ular. Kelas amfibia: bebagai jenis katak. Kelas aves: alap-alap, beo, betet, kakatua, kasuari, kuntul merak, nuri perkici, serindit;
2. Kelompok Hasil Penangkaran: arwana irian, buaya, kupu-kupu, rusa;
3. Kelompok Hasil Hewan: burung wallet, kutu lak, lebah, ulat sutera.

Peran Hasil Hutan Bukan Kayu Terhadap Kehidupan Manusia
Hasil Hutan Bukan Kayu merupakan Sumber Daya Alam  yang melimpah di indonesia dan mempunyai prospek yang sangat baik untuk dikembangkan dimasa mendatang.   Indonesia memiliki hutan yang luas, data Dephut (2007) menyebutkan bahwa sekitar 30.000 – 40.000 jenis tumbuhan yang tersebar di hutan tropis di tiap pulau dan tersebar di hutan tropis, 20 % diantaranya memberikan hasil hutan berupa kayu dan bagian terbesar yakni 80 % justru memiliki potensi memberikan hasil hutan bukan kayu.  Indonesia juga dikenal mempunyai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.  Jika kita mampu mengelolah sumberdaya tersebut secara lestari maka akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sejak zaman prasejarah hasil hutan bukan kayu banyak dimanfaatkan oleh manusia.  Pada saat itu manusia purba berburu dan meramu dan belum mengenal bangunan.  Mereka menggunakan tulang binatang untuk berburu, pakaian mereka masih berupa kulit  binatang, daun-daun dan kulit-kulit  kayu yang dijalin rapi.  Beberapa tumbuh-tumbuhan dari hutan mereka gunakan sebagai obat. 
Seiring dengan Perkembangan ilmu pengetahuan, mereka kemudian mengenal teknik bercocok tanam.  Mereka mulai bercocok tanam umbi-umbian dari hutan sebagai sumber makanan mereka dan telah menjinakkan hewan sebagai hewan peliharaan  untuk bahan makanan maupun kendaraan mereka.  Mereka juga telah mengenal teknik menganyam.  Mereka menganyam rotan, bambu, daun pandan sebagai alat-alat rumah tangga seperti tikar, bakul, tampi, topi, kurungan ayam dan lain sebagainya.  Hasil kerajinan tersebut seringkali digunakan sebagai mas kawin.  Selain itu, pewarna-pewarna alam juga sudah banyak digunakan sebagai pewarna makanan dalam kegiatan upacara adat.
Sejak manusia mengenal kayu sebagai bahan bangunan, hasil hutan bukan kayu tetap tidak lepas dari kehidupan manusia.  Walaupun komponen utama bangunan adalah kayu, namun  masih tetap mengandalkan bambu sebagai pagar, tiang, jendela dan atap,  rotan sebagai furniture dan pengikat kayu dan  Ijuk sebagai  atap rumah.
 Bagi masyarakat  pedesaan hasil hutan bukan kayu merupakan sumber daya penting, mereka memanfaatkan hasil hutan bukan kayu sebagai bahan pangan (sagu, umbi-umbian, nira), sebagai bumbu makanan (kayu manis, pala) dan obat2an, sebagai  pembuat pakaian, seperti  sarung sutera dan sebagai bahan bangunan.
Sampai saat ini peranan hasil hutan bukan kayu tetaplah penting bahkan pemanfaatannya mulai ditingkatkan, seperti pemanfaatan bambu sebagai pulp dan papan komposit, nira aren sebagai penghasil gula, cuka dan bioetanol,  rotan sebagai  furniture, dan bahan ekstraktif sebagai parfum dan lain sebagainya.
Secara umum peranan hasil hutan bukan kayu untuk manusia:
  1. Sebagai  bahan makanan, biji-bijian, dan buah-buahan.
  2. Sebagai komponen bangunan (bambu dan batang aren)
  3. Sebagai furniture
  4. Sebagai perabot rumah tangga
  5. Sebagai penghasil bahan kimia dan produk-produk  industri 
  6. Sebagai bahan obat-obatan
  1. Sebagai bahan kosmetik
  2. Sebagai bahan pengawet
  3. Sebagai bahan perekat
  4. Sebagai bahan minuman
  5. Sebagai bahan bioenergi
  6. Sebagai pewarna alami
  7. Sebagai bahan kerajinan tangan
  8. Sebagai bahan industri tekstil
  9. Sebagai alat musik dan olah raga
  10. Sebagai makanan ternak
  11. Sebagai alat mainan dan boneka
  12. Sebagai senjata dan alat berburu
  13. Sebagai bahan penghiasan (tanaman hias dan kegemaran)
  14. Dll.
Masyarakat desa mengandalkan pemanfaatan hasil pertanian dan hutan serta berbagai sumber pendapatan lainnya yang dihasilkan dari penjualan hasil hutan atau upah kerja.  Penggolongan masyarakat  berdasarkan tinkat pendapatan tunai rumah tangga dan proporsi pendapatan dari perdagangan hasil hutan bukan kayu digolongkan sebagai berikut:
  1. Rumah tangga yang bergantung penuh pada sumberdaya sekedarnya (pemanfaatan langsung dari hutan)
  2. Rumah tangga yang menggunakan hasil hutan bukan kayu komersil sebagai pendapatan tambahan
  3. Rumah tangga yang mendapatkan sebagian besar pendapatan tunainya dari penjualan hasil hutan bukan kayu.
(Dari berbagai sumber)
Pertemuan Pertama, Kuliah Hasil Hutan Bukan Kayu.

6 komentar:

  1. abd.karar L 131 10 380

    apakah jenis rotan disulawesi sama dengan jenis rotan di daerah lain ?

    BalasHapus
  2. Ada yang sama ada yang tdk sama, jika jenisnya termasuk jenis endemik sulawesi berarti secara alami jenis tersebut hanya berada di sulawesi. Jika tdk endemik, berarti jenis tersebut juga terdapat di daerah lain.

    BalasHapus
  3. nama : muliyanti
    L131 10 323

    1. dikatakan dari 306 jenis rotan 51 jenis di antaranya telah di manfaatkan.
    jenis rotan apa sajakah yang telah di manfaatkan dan jenis rotan apa saja yang langsung bisa di jadikan obat tradisional???

    BalasHapus
  4. Bagaimana dengan peran masyarakat di Sulawesi tengah dalam pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu, kanda ??

    Rahmatul Akbar Angk 2010 Fahutan Untad,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klu pengembangan HHBK di Sulawesi Tengah lebih banyak dikembangkan oleh masyarakat secara swadaya, misalnya budidaya lebah madu, ulat sutra, dan yang paling dikenal, tanaman obat di Pakuli. Sedangkan peran dari pihak pemerintah masih kurang.

      Hapus
  5. Masih banyak macam jenis pepohonan atau Tanaman Hutan Non Kayu, salah satunya adalah AREN. Aren juga tanaman yang hebat yang bisa memberikan produk yang banyak dibutuhkan oleh pangan, energi dan industri, tanpa harus menebang pohonnya. Tanaman Aren juga mempunyai fungsi ekologis dan hidrologis yang sangat menguntungkan bagi lingkungan hidup manusia maupun vegetasi hutan lainya.
    Tanaman Aren bisa menghasilkan nira yang nisa diolah menjadi gula dan bioethanol. Selain itu Aren juga menghasilkan buah kalang-kaling yang enak rasanya, terakhir kolang-kaling juga bisa dioalh menjadi obat yang berkaitan dengan sistem tulang rawan. Ijuk yang menempel di sekujur batangnya juga merupakan produk yang bisa menghidupkan ekonomi kecil karena menjadi bahan kerajinan dan alat-alat pembersih rumah tangga, menjadi tali atau bahan fiber untuk industri serta sevagai bantalan lapangan sepak bola modern, dll.
    Produk yang lain lagi yaitu lidinya yang berukuran lebih besar bisa dibuat aneka kerajinan dan tusuk sate. Kayunya yang bagian dalam juga masih mengandung pati sagu, sedangkan yang bagian luar sangat keras bisa dijadikan bahan pembuatan meubelair.
    Pada vegetasi Aren yang dikenal memiliki masa pembungaan yang terus menerus sepanjang tahun juga sangat bagus kalau dibudidayakan lebah madu yang nilainya lumayan. Pokoknya banyak sekali yang bisa dihasilkan dan diusahakan sehingga bisa menghidupkan ekonomi masyarakat yang mengelolanya, tanpa harus menebang pohonnya.
    Makanya saya sangat setuju dengan artikel Mbah Herti di atas, sebab jenis Tanaman Hutan Non Kayu itu banyak. Dan menurut saya yang paling hebat ya itu tadi Tanaman AREN.
    Trimakasih….

    Lebih jauh tentang ARen silakan kunjungi blog saya : http://kebunaren.blogspot.com

    BalasHapus