Tampilkan postingan dengan label Azimah Rahayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Azimah Rahayu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Desember 2020

MENGUBAH DUNIA DENGAN SENYUMAN

 

Mengeja baris demi baris yang tertulis di rubrik muda Majalah Annida Akhir Oktober 2002 (Gatot Wahyudi: Pemenang I Remaja Berprestasi Annida 2002), airmata meleleh di pipi. Haru dan kagum padanya sekaligus juga malu pada diri sendiri. Haru dan kagum atas ketegarannya, malu karena sering merasa menjadi orang paling merana di dunia. Saat yang sama, semangat pun terbangun, untuk meneladaninya.

Laki-laki muda dengan segudang prestasi di tingkat lokal maupun nasional itu ternyata hidup serba berkekurangan. Terlahir dari keluarga sangat sederhana. Bahkan sempat menggelandang bersama sang bapak ketika usianya masih sangat belia: 3 tahun. Sewaktu SMU, ia dua tahun tidur di sekolah demi mengirit ongkos perjalanan, karena jarak rumah dan sekolah lebih dari 20 km sedang alat transportasi tiada. Terbiasa puasa senin kamis, saat kuliah memilih puasa daud demi menghemat biaya makan namun tetap bisa makan teratur. Pernah 21 hari tak makan nasi, karena duit di kantong sudah sangat menipis.

Sabtu, 31 Oktober 2020

SILATURAHMI ITU….

 

Hujan di bulan Januari benar-benar telah menjadi hujan sehari-hari. Seperti hari itu, sebuah ahad dengan langit yang pekat. Mendung menggantung di setiap ujung langit, menghias segala lintas cakrawala. Sepanjang waktu ia menumpahkan bebannya. Beberapa saat merintik, kemudian menderas dan kadang mengguyur. Namun laki-laki itu tetap tak jeri. Tenang dan mantap dia mengendarai motornya, dengan kecepatan rata-rata, meski sesekali digebernya juga. Sesosok perempuan yang menggelendot di punggungnya tak sekalipun membuatnya mengeluh pegal dan sejenisnya. Istrinya. Ini adalah perjalanan berikutnya, setelah sebelumnya mereka menyusuri jalanan Jakarta nyaris 1,5 jam lamanya. Ini adalah perjalanan ke tujuan selanjutnya, setelah sebelumnya bercengkerama selama hampir dua jam bersama sebuah keluarga salah satu kerabatnya.

Kamis, 31 Januari 2019

MENIKAH MEMBUATKU JADI KAYA

Pada hari-hari pertama pernikahan kami, suami bertanya, “Ke mana saja uangmu selama ini?” Pertanyaan itu sungguh menggedor dadaku. Ya, ke mana saja uangku selama ini? Buku tabunganku tak pernah berisi angka belasan hingga puluhan juta. Selalu hanya satu digit. Itu pun biasanya selalu habis lagi untuk kepentingan yang agak besar seperti untuk bayar kuliah (ketika aku kuliah) dan untuk kepentingan keluarga besarku di kampung. Padahal, kalau dihitung-hitung, gajiku tidaklah terlalu kecil-kecil amat. Belum lagi pendapatan lain-lain yang kudapat sebagai penulis, instruktur pelatihan menulis, pembicara di berbagai acara, guru privat, honor anggota tim audit ataupun tim studi. Lalu, ke mana saja uangku selama ini? Kepada suamiku, waktu itu aku membeberkan bahwa biaya operasional untuk keaktifanku cukup besar. Ongkos jalan, pulsa telepon, nombok biaya kegiatan, makan dan traktiran. Intinya, aku mencari apologi atas aliran uangku yang tidak jelas.

Rabu, 19 Desember 2018

PILIHAN


Hidup dengan permasalahannya bagaikan mendaki gunung terjal dan berliku. Dapat atau tidaknya kita menaklukkannya akan sangat tergantung pada paradigma dan pilihan sikap kita masing-masing.  Apakah kita akan memilih menyerah bahkan sebelum mendaki, atau tetap mendaki beramai-ramai dan berhenti ketika telah menemukan tempat yang nyaman, atau tetap terus mendaki bersama segelintir orang dari puncak yang satu ke puncak yang lain.  Dari gunung yang satu ke gunung berikutnya.
Surga dan kenikmatan hari akhir juga seperti gunung yang bertingkat-tingkat.  Untuk mencapainya seperti mendaki gunung.  Mungkin ada yang merasa cukup puas di kakinya saja, di lerengnya atau tetap berusaha sekuat daya dan kreatifitas untuk menggapai puncaknya.

Senin, 26 Maret 2018

KEMENANGAN DOA


Sosoknya amat sederhana. Tinggi rata-rata, berat rata-rata, penampilan rata-rata, kulit sawo matang layaknya orang Jawa, bahkan lebih hitam sebab setiap hari terpanggang matahari, di atas lautan lagi. Prestasi rata-rata, aktifitasnya pun biasa saja. Jelas bukan selebritis, bahkan di taraf RT sekalipun. Dia hanyalah seorang hamba Allah sederhana, nan mencoba menjalani hayati buat berbakti kepada TuhanNya dengan jalan amat sederhana: beribadah makhdhah dengan baik, bekerja dengan baik, berbakti kepada ibu bapak serta menjalin silaturahmi dengan baik kepada saudara seiman, saudara sedarah, dan sesama manusia.

Jumat, 06 Desember 2013

jikalah pada akhirnya...



jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa
sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti

jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa tidak dinikmati saja
sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa

jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa
sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama

Kamis, 31 Oktober 2013

Jerawat




Mahasuci Allah yang telah membaguskan fisikku maka baguskanlah akhlakku (doa bercermin)

Kupandang lekat-lekat wajahku di cermin.  Kumiringkan ke kiri, ke kanan, sambil menelusuri garis samar yang terbentuk antara daerah yang biasa tertutup jilbab dan wajah terbuka.  Belasan kali saraf jariku merasakan permukaan yang tidak rata.  Bintik-bintik kecil rapat berjajar di sana. Kudongakkan daguku.  Sebuah benjolan kecil dengan manis bertengger di sana.  Sementara itu, beberapa bintik merah kecil mengitarinya.  Kudekatkan dahiku ke kaca, serombongan titik hitam menghias di sana dengan suksesnya.  Di pipi? Oho, tiga biji mahluk mungil mengambil tempat dengan indah.  Lengkap sudah!

Sabtu, 29 September 2012

KARUNIA KETULUSAN

Saya sedang berdiri menunggu angkot di depan gang ketika laki-laki itu mendekat.  Ia melambaikan tangan, sambil cengar-cengir dan mengumamkan sesuatu yang terdengar seperti,”Mba, berangkat ke kantor?” Entahlah, tepatnya apa yang ia ucapkan.  Mungkin saya tak memperhatikan atau ucapannya tidak jelas.  Saya hanya tersenyum tipis dan mengangguk acuh menjawab sapanya, kemudian kembali mengarahkan pandangan ke kanan, arah angkot akan memunculkan hidungnya.
Tetapi laki-laki itu tak bergeming.  Ia tetap berdiri di sisi saya.  Ketika sebuah angkot mendekat, ia turut melambaikan tangan, memberi isyarat supaya angkot berhenti.  Saya menoleh sebal, sedikit merasa terganggu oleh sikapnya, kemudian buru-buru naik.