Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Maret 2024

ISTRI GURU TAHFIDZ

Jika boleh usul, apakah bisa sebutan ‘guru adalah pahlawan tanda jasa’ itu ditiadakan saja? Supaya guru menjadi profesi yang dihargai dengan materi secara layak. Jujur, aku sudah muak dengan kata-kata manis bahwa jasa guru akan dibalas kebaikannya di akhirat kelak. Kalian pikir profesi lain seperti polisi, dokter, pilot, pedagang, masinis atau buruh pabrik tidak akan mendapat balasan kebaikan di akhirat?

Bersembunyi di balik slogan ‘Ikhlas Beramal’ agar bisa seenaknya membayar murah jasa guru tanpa memikirkan bagaimana kesejahteraan keluarganya di rumah, adalah ciri manusia bermental pecundang.

Lagipula sejak kapan keikhlasan guru dalam mengajar diukur dari besar kecilnya gaji yang diterima? Makin kecil gaji makin ikhlas gurunya, makin besar gaji artinya dia tidak ikhlas saat mengajar. Aneh!

***

Rabu, 30 Januari 2019

ROBOHNYA SURAU KAMI


Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.
Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengansegala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.
Sebagai penajga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.

Minggu, 17 Desember 2017

PEREMPUAN ANEH DALAM KWK 02

Saya pertama kali bertemu dengan perempuan itu kira-kira dua minggu yang lalu.  Hampir saya berteriak kaget ketika masuk ke dalam angkutan KWK 02 dan bertubruk pandang dengannya.  Apalagi tak seorang pun ada dalam angkutan jurusan Cililitan-Cilangkap itu.
Waktu menunjukkan pukul 22.00.  Malam pekat.  Saya pulang dari TIM. Usai rapat dengan teman-teman Dewan Kesenian Jakarta.  Saya memang sengaja tak naik taksi, agar bisa lebih hemat.  Ah, saya menarik napas tak panjang.  Perempuan itu tak berkedip menatap saya.  Saya membuang wajah ke jalan raya, tak mau membalas menatap.   Ya Allah, siapa dia? Kapan ia turun? Dimana ia turun? Ada apa dengannya?  Pertanyaan pertanyaan itu berkecamuk di benak saya.  Apakah ia gila? Mau menodong? Apa ia akan mebayar ongkos? Atau perlu saya bayari.