Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 April 2020

ADAB MEMBAWA ANAK BERTAMU


Pada suatu hari, karena macet, kami memutar balik perjalanan, kami arahkan mobil ke sebuah perumahan untuk numpang muter aja, lalu tanpa sengaja, ternyata kami melewati rumah seorang teman lama suami. Dan dia meminta kami mampir.
Kami serombongan dengan 4 anak. Menuju ruang tamunya yang mungil dan bersih.
Singkat cerita, di sana, juga ada tamu yang baru datang. sebuah keluarga -ayah, ibu dan 1 anak 7 tahunan-. Si anak langsung membuka toples kue nastar, membawa toples ke pangkuannya, dan lalu asyik makan. Kita panggil saja si anak "Boy" yaa. Badannya bongsor.
Nastar itu terlihat "mahal". Bentuknya seperti buah jambu. Cantik banget.
Hampir setengah toples berpindah ke perut Boy. Sang Ayah sibuk mengobrol dengan tuan rumah, sang ibu sibuk dengan HP. Aku mengajak anak-anak ke teras luar yang adem, aku takut menjadi 'tertuduh' terlibat menghabiskan 1 toples kue mahal

Sabtu, 29 Februari 2020

SUNNAH RASULULLAH MELAYANI TAMU DAN LARANGAN PILAH-PILIH


Memuliakan tamu termasuk kesempurnaan dari iman seorang muslim sebagaimana Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari Muslim. "Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya."
Mengutip buku Kumpulan Tulisan M Ali Hasan, salah satu cara untuk menilai mutu iman seseorang adalah bagaimana cara dia memuliakan tamunya. Orang yang acuh tak acuh terhadap tamunya, berarti imannya kurang sempurna. Orang yang menyadari, bahwa imannya dikaitkan dengan memuliakan tamu tentu semampu mungkin dia akan memuliakan tamunya. 

Kamis, 11 Juli 2019

ADAB BERTAMU DAN MEMULIAKAN TAMU


Pembaca muslim yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)
Berikut ini adalah adab-adab yang berkaitan dengan tamu dan bertamu. Kami membagi pembahasan ini dalam dua bagian, yaitu adab bagi tuan rumah dan adab bagi tamu.

Jumat, 29 Maret 2019

ADAB TERTAWA


“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (QS. Ibrahim: 24-26).
Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Tidak akan lurus keimanan seorang hamba, sampailah lurus hatinya dan tidak akan lurus hatinya, sampailah lurus lidahnya.” (Riwayat Ahmad).
1. Tidak Terkekeh-Kekeh
Perumpamaan dalam Al Qur’an di atas amat menarik untuk direnungkan. Hal itu menggambarkan betapa mulia dan terhormatnya orang yang senantiasa berbicara dengan perkataan yang baik dan yang bermanfaat.
Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  tadi, dijelaskan bahwa merupakan suatu syarat, lurusnya iman seseorang adalah lurusnya hati. Kemudian juga merupakan syarat lurusnya hati dengan lurusnya lisan. Penjelasan yang amat terang ini sudah pasti mudah untuk dipahami.

Sabtu, 23 Maret 2019

JANGAN PEGANG HP KETIKA BERBICARA DENGAN ORANG LAIN


Perhatikan contoh adab berikut yang benar-benar memperhatikan adab ketika sedang berbicara kepada yang diajak bicara. Mereka benar-benar memperhatikan teman bicara sebagai bentuk penghormatan dan tidak disibukkan dengan urusan lainnya.  ‘Ataa’ bin Abi Rabah berkata,
 “Ada seseorang laki-laki menceritakan kepadaku suatu cerita, maka aku diam untuk benar-benar mendengarnya, seolah-olah aku tidak pernah mendengar cerita itu, padahal sungguh aku pernah mendengar cerita itu sebelum ia dilahirkan.” (Siyar A’laam An-Nubala 5/86)
Di zaman ini manusia dengan HP dan Gadget mungkin sulit dipisahkan, bahkan ada yang benar-benar tidak bisa meninggalkan HP dan gadgetnya ketika berbicara dengan orang lain yang merupakan teman bicaranya. Begitu sibuknya dengan HP dan gadget, ia masih konsentrasi ke HP dan gadget padahal masih dalam tahap berbicara dengan teman bicaranya. Akibatnya ia berbicara tidak serius, tidak konsentrasi dan terkadang tidak nyambung. Hal ini bisa jadi bentuk ketidaksopanan dan tidak menghargai teman bicaranya.