Sabtu, 29 Agustus 2020

BAHAYA KERTAS COKELAT PEMBUNGKUS MAKANAN

Sumber: mediasuaranasional

Kertas cokelat umum digunakan untuk membungkus makanan. Mulai dari gorengan sampai nasi rames, telah lama menggantikan daun pisang. Ternyata kertas pembungkus makanan tersebut mengandung zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan tubuh.
Dari sisi penjual harganya lebih murah, praktis dan mudah diperoleh. Apalagi saat ini daun pisang memang agak susah ditemukan di pasaran, terutama di kota-kota besar.
Jadi keberadaan kertas cokelat untuk membungkus makanan merupakan solusi yang cepat. Para konsumen juga sudah terbiasa dengan hal tersebut.
Akan tetapi di balik segala kemudahan dan kepraktisan kertas pembungkus makanan tersebut, efeknya bisa berbahaya bagi kesehatan tubuh. Dilansir Kompas, sejumlah penelitian telah menemukan bahwa kertas cokelat pembungkus makanan mengandung BPA yang berbahaya bagi kesehatan.

4 ASUPAN YANG SEBAIKNYA TIDAK DIKONSUMSI BERSAMA KOPI


Bagi pecinta kopi, memulai aktivitas tanpa minum kopi rasanya ada yang kurang. Tidak hanya mengusir kantuk, mengkonsumsi kopi juga memiliki banyak manfaat seperti meningkatkan konsentrasi.
Sehabis makan, tak jarang beberapa orang memilih meminum kopi sebagai penutup. Sayangnya, makanan atau camilan yang dikonsumsi kurang sehat saat dikonsumsi bersama maupun setelah minum kopi. Hal ini tanpa disadari akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan.
1. Susu
Sebagian orang mengkonsumsi kopi dan susu di pagi hari secara bersamaan. Hal ini karena susu untuk mengganjal perut sedangkan kopi agar tidak mengantuk. Faktanya, kopi dapat mempengaruhi penyerapan kalsium pada tubuh sehingga lebih banyak kalsium yang terbuang melalui urine.  Jika ingin mendapat manfaat yang maksimal, sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan. Lain soal jika hanya butuh nikmatnya.

Kamis, 27 Agustus 2020

BERTAHAN DARI KEKERINGAN, BURUNG PENGICAU TROPIS PILIH STOP BERTELUR


Ketidakstabilan yang terjadi di lingkungan saat ini, mau tak mau membuat spesies satwa di alam liar harus beradaptasi. Seperti misalnya yang terjadi pada burung pengicau di hutan hujan tropis. Untuk bertahan hidup dari kekeringan, mereka memilih membatasi reproduksi. Hal ini terungkap berkat sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate.
Seperti dikutip dari Phys.org, Selasa (25/8/2020) kekeringan telah mengancam beberapa bagian planet dan lebih umum terjadi karena perubahan iklim. Untuk kelangsungan hidup mereka sendiri, burung pengicau di hutan hujan tropis pun akhirnya memilih untuk mengurangi bereproduksi. Alasannya, memproduksi telur dan memberi anak burung akan membutuhkan energi tambahan.
Dalam studinya, peneliti menggunakan data 38 spesies burung dari Venezuela dan Malaysia. Peneliti juga menggunakan data periode kekeringan di masing-masing negara. Hasilnya, peneliti menemukan reproduksi 20 burung Malaysia berkurang rata-rata 36 persen. Sementara pada 18 spesies burung Venezuela terjadi penurunan reproduksi pula sebesar 52 persen.

Rabu, 26 Agustus 2020

KICAUAN BURUNG DI PAGI HARI TERNYATA STUDI BARU UNGKAP ALASAN INI


Saat matahari mulai terbit, hiruk pikuk kicauan burung-burung terdengar saling saut menyaut. Siapa sangka, hal yang sangat lumrah kita dengar hampir setiap hari itu ternyata punya arti tersendiri bagi burung-burung tersebut.
Menurut sebuah penelitian baru, kicauan nyaring dari burung-burung itu rupanya merupakan bentuk pemanasan atau latihan vokal. Dengan melakukan pemanasan lebih awal dan sering maka burung bakal memiliki performa kicauan yang lebih baik di siang hari.   "Sepertinya mereka melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum matahari terbit," ungkap Stephen Nowicki, peneliti dari Duke Univeristy, seperti dikutip dari Futurity, Senin (24/8/2020).
Sebelumnya, peneliti telah mengajukan berbagai hipotesis mengapa kicauan burung terdengar paling keras di pagi hari. Salah satu teorinya adalah itu merupakan waktu terbaik untuk berkicau karena tak banyak angin yang menganggu suara mereka. Sementara teori lain menyebut, kegiatan berkicau mereka lakukan sembari menunggu hari terang untuk berburu serangga.

Jumat, 21 Agustus 2020

SQUAT JUMP BISA MENYEBABKAN LUMPUH KAKI, BENARKAH?


Baru-baru ini viral kisah seorang siswi SMA di Mojokerto yang mengalami lumpuh setelah melakukan hukuman 90 kali squat jump yang diberikan temannya sesama anggota ekstrakurikuler di sekolah. Peristiwa ini mengejutkan berbagai pihak bukan hanya karena masih saja ada budaya hukuman fisik di lingkungan sekolah, tapi juga menimbulkan pertanyaan baru: apakah squat jump berbahaya?  
Selama ini beberapa literatur olahraga dan kesehatan menyebutkan bahwa melakukan gerakan seperti squat jump memberikan manfaat yang baik untuk tubuh. Lalu, bagaimana squat jump bisa berbahaya dan bisa menimbulkan cedera?