Senin, 26 Maret 2018

KEMENANGAN DOA


Sosoknya amat sederhana. Tinggi rata-rata, berat rata-rata, penampilan rata-rata, kulit sawo matang layaknya orang Jawa, bahkan lebih hitam sebab setiap hari terpanggang matahari, di atas lautan lagi. Prestasi rata-rata, aktifitasnya pun biasa saja. Jelas bukan selebritis, bahkan di taraf RT sekalipun. Dia hanyalah seorang hamba Allah sederhana, nan mencoba menjalani hayati buat berbakti kepada TuhanNya dengan jalan amat sederhana: beribadah makhdhah dengan baik, bekerja dengan baik, berbakti kepada ibu bapak serta menjalin silaturahmi dengan baik kepada saudara seiman, saudara sedarah, dan sesama manusia.

JAMAAH YANG EFEKTIF


Ummat ini bagaikan daun-daun yang berguguran, mudah sekali diterpa angin. Tiada kekuatan yang mampu menghimpunnya kembali, menata seperti ia masih bergayut pada pohonnya. Begitulah kenyataan! Banyak orang saleh, orang hebat, tapi semuanya seperti daun-daun yang berhamburan. Oleh karena itu, jalan panjang untuk menuju kebangkitan ummat ini haruslah dimulai dari menghimpun daun-daun tersebut dalam wadah yang bernama jama’ah, merajut kembali jalinan cinta, satukan potensi dan kekuatan, sehingga ia menjadi pohon peradaban yang teduh, menaungi kemanusiaan.
Walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal
Himpunlah daun-daun yang berhamburan ini
Hidupkan lagi ajaran saling mencinta
Ajari lagi kami berkhidmat seperti dulu

Jumat, 02 Februari 2018

RUMAH YANG SHALIH

Jika rumah menjadi sebaik-baik tempat menenangkan fisik, meneduhkan hati, maka sejauh apa pun kaki melangkah, rumah juga yang menjadi tempat paling dirindukan. Jika rumah bukanlah soal bangunannya yang kokoh, tetapi tempat kebaikan bersemi dan ketenteraman hati diraih, maka hiburan terbaik bagi jiwa yang penat adalah rumahnya sendiri. Ini rumah dalam makna maskan yang shalih.
Ada banyak paradoks. Betapa sering kita menjumpai orang yang sangat jarang di rumah, sebelum Subuh sudah ia tinggalkan untuk kerja dan malam baru tiba, tetapi saat libur tiba justru ia tinggalkan untuk mencari ketenangan, memperoleh hiburan. Demi meraih ketenangan itu, ia rela berpayah-payah menempuh kemacetan yang menegangkan. Hanya sesaat istirahat, esok atau lusa harus segera kembali bergulat dengan kemacetan agar dapat segera tiba di rumah. Kenapa? Esok Subuh harus kembali berangkat kerja.

Senin, 29 Januari 2018

PISONIA, POHON PEMBAWA KEMATIAN BAGI RIBUAN BURUNG

Pohon bernama lengkap Pisonia brunoniana ini dikenal memiliki reputasi mengerikan. Nama indahnya itu justru membawa kematian untuk burung-burung yang hinggap di tubuhnya. Pohon berbunga kecil ini asli dari kawasan tropis, terbentang dari Hawaii, Selandia Baru, hingga India.
Pohon ini tidak memiliki wujud ‘mengancam’, tanpa duri dan tanpa buah beracun,serta tiada pula bagiannya yang berfungsi menjebak hewan.Namun, jika diteliti dari akar hingga rantingnya, akan kita temukan ribuan tulang dan tubuh-tubuh kecil yang kaku dan mengering.
Belum ditemukan alasan jelas mengapa pohon ini begitu ‘suka’ membantai burung. Ahli ekologi menyatakan, bisa jadi ini hanya salah satu kebiasaan mengerikan evolusi.

SEAKAN KULIHAT AISYAH

Ketika engkau bertanya kepadaku tentang pendamping hidup yang sempurna, seakan-akan kulihat Aisyah radhiyallahu 'anha. Dialah istri Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam yang banyak menimbulkan takjub pada hati yang merindukan kemesraan. Dia pula istri Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam yang kecerdasannya membuat para shahabat berdatangan kepadanya untuk belajar. Bila orang membicarakannya, kita selalu teringat akan peristiwa bagaimana ia berkejar-kejaran mesra dengan suaminya, Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam. Bila orang mendengar julukannya, Humaira’ (yang pipinya merah jambu), terbayang rumah tangga yang romantis menggemaskan. Itu sebabnya, para penceramah sering menceritakannya pada khutbah-khutbah pernikahan.