Senin, 04 Mei 2026

KUNTUL KERBAU DI KAMPUS UNTAD: FENOMENA BARU ATAU SEKADAR BARU DISADARI?

Kemunculan burung kuntul kerbau (Bubulcus ibis) di lingkungan Universitas Tadulako belakangan ini terasa seperti “kejadian besar” bagi sebagian warga kampus. Apalagi, momen itu datang setelah embung selesai dibangun. Di benak banyak orang, hubungan keduanya tampak jelas: ada air baru, lalu datang burung air. Sederhana, masuk akal, dan mudah dipercaya. Namun, seperti banyak hal dalam ekologi, apa yang terlihat di permukaan tidak selalu mencerminkan cerita yang sebenarnya.

Bagi mereka yang terbiasa mengamati burung, kehadiran kuntul kerbau di kampus bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Burung ini memang sudah lama “datang dan pergi” di kawasan ini. Ia tidak menetap, tidak juga rutin muncul setiap saat, tetapi sesekali hadir ketika kondisi lingkungan mendukung. Sifatnya yang pengembara membuat pergerakannya sangat dinamis, mengikuti peluang, terutama ketersediaan makanan. Karena itu, apa yang kini dianggap sebagai fenomena baru sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai fenomena yang baru disadari. Burungnya sudah lama ada, hanya saja perhatian kita yang baru tertuju sekarang.

Lalu bagaimana dengan embung? Di sinilah menariknya. Meski sering dikaitkan, kondisi embung di kampus justru kurang ideal bagi burung air untuk mencari makan. Tepiannya yang berbatu tidak menyediakan lumpur dangkal yang biasanya menjadi “meja makan” bagi banyak burung air. Ditambah lagi, vegetasi di sekitarnya belum cukup rimbun untuk memberi rasa aman dari gangguan. Gambaran ini mirip dengan kondisi di Taman Wisata Alam Wera, di mana tepian sungai yang didominasi batu membuat burung air jarang terlihat. 

Jika bukan karena embung, lalu apa yang membuat burung ini muncul? Jawabannya justru datang dari sesuatu yang mungkin kita rasakan setiap hari: panas. Dalam beberapa waktu terakhir, wilayah Palu mengalami suhu yang cukup tinggi. Vegetasi mengering, rumput-rumput berubah kecokelatan, dan tanpa disadari, kondisi ini memicu ledakan kecil pada populasi serangga darat. Belalang, jangkrik, dan berbagai serangga lain menjadi lebih mudah ditemukan. Bagi kuntul kerbau, ini seperti undangan terbuka. Kampus tiba-tiba berubah menjadi tempat makan yang menjanjikan.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa kuntul kerbau tidak sepenuhnya “burung air” seperti yang sering dibayangkan. Dibandingkan berdiri diam di air dangkal menunggu ikan, burung ini justru lebih sering terlihat berjalan di tanah terbuka, menyusuri rumput, atau mengikuti hewan besar seperti sapi dan kerbau. Dari situ ia memanfaatkan serangga yang terusik oleh gerakan hewan tersebut. Bahkan, nama “kuntul kerbau” sendiri lahir dari kebiasaan ini. Strateginya sederhana, tapi efektif: biarkan yang lain mengusik, lalu ia datang memanfaatkan. Karena itulah, secara ekologis, burung ini lebih dekat dengan kehidupan darat daripada perairan.

Meski demikian, bukan berarti embung sama sekali tidak berperan. Kehadiran air tetap membawa perubahan, hanya saja dampaknya terlihat pada kelompok burung yang berbeda. Di atas permukaan embung, aktivitas serangga terbang meningkat, dan ini menarik perhatian burung-burung aerial seperti Hirundo javanica dan Aerodramus vanikorensis. Mereka berputar di udara, memanfaatkan serangga yang beterbangan rendah di atas air. Jadi, embung tetap “mengundang” burung, tetapi bukan jenis yang banyak dibayangkan orang.

Pada akhirnya, cerita tentang kuntul kerbau di kampus ini menjadi pengingat sederhana bahwa alam sering bekerja dengan cara yang lebih kompleks daripada yang kita duga. Dua peristiwa bisa terjadi bersamaan, tetapi belum tentu saling berkaitan. Dalam kasus ini, kemunculan burung dan keberadaan embung memang berdekatan dalam waktu, namun faktor yang lebih berperan justru adalah kondisi cuaca, ketersediaan pakan, dan sifat alami burung itu sendiri yang suka berpindah mengikuti peluang.

Mungkin, alih-alih langsung mencari hubungan sebab-akibat yang paling terlihat, kita bisa mulai dengan bertanya lebih dalam: apa yang sebenarnya sedang berubah di sekitar kita? Karena sering kali, fenomena yang kita anggap baru bukanlah sesuatu yang benar-benar baru, melainkan bagian dari dinamika alam yang sudah lama berlangsung—hanya saja, baru sekarang kita benar-benar memperhatikannya.

(Moh. Ihsan Nur Mallo/Rimbawan Tadulako/Ornitolog)

video sumber informasi: https://www.facebook.com/reel/1000166009125233

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar