Kamis, 14 Mei 2026

KUNANG-KUNANG: KORBAN KOTA YANG TERLALU TERANG

Dulu, kunang-kunang adalah selebriti malam hari. Mereka muncul ramai-ramai di sawah, kebun, atau pinggir sungai dengan cahaya kecil yang berkedip cantik. Tidak ada efek LED, tidak ada editing, tidak ada filter, tetapi suasananya sudah terasa magis.

Bahkan generasi 2000-an mungkin masih ingat lagu “Kunang-Kunang” dari Endank Soekamti feat. E'snanas yang liriknya unik sekaligus absurd: “Ku mimpi dikejar kunang-kunang...” 

Dulu lagu itu terdengar lucu. Sekarang malah terasa seperti nostalgia terhadap makhluk yang mulai jarang kita lihat. Sekarang, jangankan ramai, melihat satu kunang-kunang saja rasanya seperti menemukan “hidden character” di dunia nyata.

Ironisnya, kunang-kunang bukan hilang karena diburu besar-besaran. Mereka perlahan tersingkir karena dunia modern terlalu terang. Lampu jalan menyala semalaman, reklame makin terang, lampu rumah tidak pernah mati, bahkan beberapa orang tidur sambil tetap menyalakan TV supaya katanya “ada teman”.

Senin, 04 Mei 2026

KUNTUL KERBAU DI KAMPUS UNTAD: FENOMENA BARU ATAU SEKADAR BARU DISADARI?

Kemunculan burung kuntul kerbau (Bubulcus ibis) di lingkungan Universitas Tadulako belakangan ini terasa seperti “kejadian besar” bagi sebagian warga kampus. Apalagi, momen itu datang setelah embung selesai dibangun. Di benak banyak orang, hubungan keduanya tampak jelas: ada air baru, lalu datang burung air. Sederhana, masuk akal, dan mudah dipercaya. Namun, seperti banyak hal dalam ekologi, apa yang terlihat di permukaan tidak selalu mencerminkan cerita yang sebenarnya.

Bagi mereka yang terbiasa mengamati burung, kehadiran kuntul kerbau di kampus bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Burung ini memang sudah lama “datang dan pergi” di kawasan ini. Ia tidak menetap, tidak juga rutin muncul setiap saat, tetapi sesekali hadir ketika kondisi lingkungan mendukung. Sifatnya yang pengembara membuat pergerakannya sangat dinamis, mengikuti peluang, terutama ketersediaan makanan. Karena itu, apa yang kini dianggap sebagai fenomena baru sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai fenomena yang baru disadari. Burungnya sudah lama ada, hanya saja perhatian kita yang baru tertuju sekarang.