Kemunculan burung kuntul kerbau (Bubulcus ibis) di lingkungan Universitas Tadulako belakangan ini terasa seperti “kejadian besar” bagi sebagian warga kampus. Apalagi, momen itu datang setelah embung selesai dibangun. Di benak banyak orang, hubungan keduanya tampak jelas: ada air baru, lalu datang burung air. Sederhana, masuk akal, dan mudah dipercaya. Namun, seperti banyak hal dalam ekologi, apa yang terlihat di permukaan tidak selalu mencerminkan cerita yang sebenarnya.
Bagi mereka yang terbiasa mengamati burung, kehadiran kuntul kerbau di kampus bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Burung ini memang sudah lama “datang dan pergi” di kawasan ini. Ia tidak menetap, tidak juga rutin muncul setiap saat, tetapi sesekali hadir ketika kondisi lingkungan mendukung. Sifatnya yang pengembara membuat pergerakannya sangat dinamis, mengikuti peluang, terutama ketersediaan makanan. Karena itu, apa yang kini dianggap sebagai fenomena baru sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai fenomena yang baru disadari. Burungnya sudah lama ada, hanya saja perhatian kita yang baru tertuju sekarang.
