Bahkan generasi 2000-an mungkin masih ingat lagu “Kunang-Kunang” dari Endank Soekamti feat. E'snanas yang liriknya unik sekaligus absurd: “Ku mimpi dikejar kunang-kunang...”
Dulu lagu itu terdengar lucu. Sekarang malah terasa seperti nostalgia terhadap makhluk yang mulai jarang kita lihat. Sekarang, jangankan ramai, melihat satu kunang-kunang saja rasanya seperti menemukan “hidden character” di dunia nyata.
Ironisnya, kunang-kunang bukan hilang karena diburu besar-besaran. Mereka perlahan tersingkir karena dunia modern terlalu terang. Lampu jalan menyala semalaman, reklame makin terang, lampu rumah tidak pernah mati, bahkan beberapa orang tidur sambil tetap menyalakan TV supaya katanya “ada teman”.
Menurut Owens dan Lewis (2018) dalam jurnal Frontiers in Ecology and Evolution, cahaya buatan di malam hari membuat kunang-kunang kehilangan kondisi gelap alami yang mereka butuhkan untuk berkomunikasi.
Masalahnya, kunang-kunang itu makhluk yang sangat mengandalkan kode cahaya untuk mencari pasangan. Setiap spesies punya pola kedipan sendiri. Jadi sebenarnya, mereka sudah punya “chat pribadi” sejak lama, jauh sebelum manusia sibuk dengan centang biru dan last seen.
Dalam keadaan gelap alami, sinyal cahaya itu terlihat jelas. Tetapi ketika lingkungan dipenuhi lampu, sinyal mereka jadi sulit dikenali. Ibarat sedang PDKT serius, tetapi sebelahnya ada lampu stadion menyala penuh.
Seperti dijelaskan Firebaugh dan Haynes (2016) dalam Jurnal Oecologia, cahaya buatan membuat sinyal kunang-kunang tenggelam sehingga mereka kesulitan menemukan pasangan. Kalau dianalogikan dengan kehidupan sekarang, kunang-kunang itu seperti orang yang mau ngomong serius di tengah konser sound horeg. Mau menyampaikan sinyal, tetapi kalah sama kebisingan dan keramaian. Akibatnya, proses reproduksi terganggu. Populasi mereka perlahan menurun, sampai akhirnya makin jarang terlihat di alam.
Yang lucu sekaligus menyedihkan, manusia sekarang rela pergi jauh demi mencari suasana malam alami. Ada yang sengaja camping supaya bisa lihat bintang, ada yang berburu tempat gelap untuk astrofotografi, bahkan ada yang rela antre demi melihat “healing alam”. Padahal dulu, semua itu hadir gratis di sekitar rumah.
Kini malam di kota memang semakin terang, tetapi sering terasa semakin kehilangan suasana. Langit sulit melihat bintang, suara serangga mulai jarang terdengar, dan kunang-kunang perlahan tinggal cerita masa kecil.
Dalam Bukunya yang berjudul: Silent Sparks: The Wondrous World of Fireflies, Sara M Lewis menyebut bahwa polusi cahaya, hilangnya habitat, dan pestisida menjadi tiga ancaman terbesar bagi kunang-kunang di berbagai negara.
Mungkin tanpa sadar, kita sedang hidup di zaman ketika malam terlalu sibuk untuk memberi ruang pada cahaya kecil milik alam. Dan di tengah dunia yang semakin ramai, kunang-kunang perlahan kalah viral dengan lampu kota. Dan mungkin, kunang-kunang hanya bisa berkata:
“Maaf, kami kalah terang.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar