Sabtu, 18 Agustus 2018

ATURAN BARU KLHK TEMPATKAN BURUNG SEBAGAI JENIS SATWA YANG PALING BANYAK DILINDUNGI


Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah resmi mencabut dan menyatakan Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa tidak berlaku. Lampiran tersebut kemudian digantikan dengan Peraturan Menteri LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Penetapan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.
Dalam lampiran terbaru, terdapat perubahan status dari jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi menjadi tidak dilindungi dan sebaliknya, setelah mendapat rekomendasi dari LIPI sebagai otoritas keilmuan.
Berdasarkan lampiran tersebut, burung adalah jenis satwa yang paling banyak masuk dalam daftar dilindungi. Sebanyak 562 jenis burung masuk dalam daftar tersebut atau sekitar 31,73% dari total 1771 jenis burung yang ada di Indonesia—dalam daftar jenis sebelumnya hanya 437 jenis burung saja yang berstatus dilindungi.

BUKAN HANYA MANUSIA, BURUNG JUGA PANDAI MENGUPING


Burung memiliki kemampuan yang sangat baik dalam “menguping” atau mendengarkan isyarat panggilan 'alarm' dari burung-burung lainnya. Bahkan mereka juga belajar mengenai apa yang terjadi tanpa melihat kawanannya atau predator terlebih dahulu.
Andy Radford, seorang professor dari University of Bristol yang mempelajari perilaku ekologi menyebutkan, masing-masing spesies burung memiliki bahasanya sendiri. Seperti halnya bahasa yang digunakan manusia, terdapat beberapa jenis bahasa yang memiliki kemiripan, namun ada pula yang akan sangat berbeda, meskipun pada dasarnya mengandung makna yang serupa.
Selain memiliki bahasa sendiri, kelompok burung ini juga menangkap bahasa dari spesies lain, khususnya mereka belajar untuk mendeteksi bahaya dengan menguping panggilan 'alarm' dari burung-burung lainnya.
Radford dan rekannya mencoba mempelajari bagaimana proses belajar yang terjadi pada burung dengan melakukan eksperimen terhadap jenis burung Fairy Wren (Cikrak Peri Agung), salah satu burung yang khas dari Australia bagian Tenggara.

Sabtu, 04 Agustus 2018

PEMAKNAAN WAKTU


Setiap kali ada pergantian tahun seperti sekarang, saya selalu membangunkan kembali kesadaran saya tentang waktu dan cara merasakannya. Cara setiap orang merasakan waktu berbeda karena “satuan waktu” yang mereka gunakan juga berbeda. Itu lahir dari falsafah hidup yang juga berbeda. Jika kita memaknai hidup sebagai pertanggungjawaban, maka waktu adalah masa kerja. Waktu adalah kehidupan itu sendiri.
Orang-orang beriman membagi waktu – seperti juga hidup – ke dalam waktu dunia dan waktu akhirat. Itu 2 sistem waktu yang sama sekali berbeda. Waktu dunia adalah waktu kerja. Waktu akhirat adalah waktu pertanggungjawaban dan pembalasan atas nilai waktu kerja di dunia. Waktu kerja di dunia mengharuskan kita memaknai setiap satuan waktu sebagai satuan kerja. 1 unit waktu harus sama dengan 1 unit amal. Persamaan itu, 1 unit waktu sama dengan 1 unit kerja, membuat hidup kita jadi padat sepadat-padatnya, nilai waktu terletak pada isinya, kerja!

INDUK BEBEK MERGANSER ASUH 76 ANAK


Pemandangan tak biasa terekam kamera fotografer satwa liar Cameron Cizek di Danau Bemidji, Minnesota. Dalam video yang diunggahnya, teelihat seekor induk bebek merganser diikuti oleh 76 anak itik. Hal ini menimbulkan pertanyaan, dari mana bebek tersebut mendapatkan seluruh anakan tersebut?
Menurut Steve Cordts, seorang staf spesialis burung air di Departemen Sumber Daya Alam Minnesota, lusinan anak itik tersebut bukan seluruhnya milik induk itu. Ia memperolehnya dari banyak induk di danau yang membentuk kelompok, disebut creche. Banyak faktor yang berkontribusi pada ukuran crèche ini, kata Dave Rave, seorang manajer satwa liar dan rekan Cordts. Salah satunya adalah pencairan salju belakangan di danau. Menunggu Cuaca Hal itu memaksa induk-induk itik bersarang dan menunggu waktu yang sama agar bisa bertelur. Mereka mempertimbangkan keadaan cuaca. Untuk diketahui, cuaca yang ringan meningkatkan peluang telur-telur itu menetas. "Satu hal yang mengejutkan saya tentang creche khusus ini adalah bahwa semua anak itik masih muda, dan mereka hampir seumuran," kata Rave dikutip dari National Geographic, Jumat (27/07/2018). "Saya telah melihat beberapa crèche di mana anak bebek memiliki beberapa tingkat usia yang berbeda," sambungnya.

GEJOLAK DIBALIK BILIK


Bahkan ketika kamu memiliki semua pesona fisik, jiwa, akal dan ruh, cintamu bukan saja mungkin tertolak dan kamu terluka di bawah hukum keserasaan dan keserasian.
Lebih dari itu, kamu juga tidak bebas dari problematika kehidupan cinta dan asmara seperti yang dialami orang orang biasa.
Dalam terminologi batin kehidupan, sebenarnya kita semua hanya orang-orang biasa, memiliki rasa orang-orang biasa, dan menghadapi persoalan cinta yang juga dialami orang-orang biasa.
Bahkan ketika sang kekasih setara dengan kamu pada pesona fisik, jiwa, akal dan ruhnya, itu juga bukan sebuah sertifikat bebas perkara kehidupan, yang dapat kamu tempel pada dinding kesadaranmu.